Thursday, April 11, 2013
Bu Haji Menulis: Tasku
Suatu siang, saya agak bertengkar… dengan monik, seorang
santri as sakinah. Ia telah lulus SMA, sebentar lagi akan memasuki bangku
perkuliahan.
“Kita harus beli-beli, nak.” Bahasa
saya awalnya begitu. “Kamu butuh baju kuliah, sepatu, jilbab, dan lain-lain,
juga pikirkan alat-alat di kos an.”, kata saya meneruskan.
Ia menganguk-angguk.. “Iya
buk…iya buk..” patuh.
“Oh ya... tas juga. Mon, kita
cari tas yang murah meriah.. tapi bagus, dan pantes untuk kamu pakai kuliah .”
“Hahh, tas Buk ..,?? Nggak
usah, masih ada kok. Saya pakai tas yang lama ia bersikeras lagi…masih bisa
dipakai.
Monik memang agak “heroik”
anaknya, anak wanita 17 tahunan, tapi sukanya main bola tendang sama adiknya.
Kesehariannya selalu dengan jilbab simpel, kaos dan jins dengan warna yang tak
jauh beda, abu-abu, hitam, sesekali putih.
Saya sering komentar, anak cewek
harusnya suka pink, kuning, merah, atau apalah… yang penting cerah-cerah. Tapi
dia cepat menjawab “terlalu genit Buk!” selalu begitu, atau sesekali memancing
reaksi saya “gak sholehah, bu..”
Dan
dia tahu pasti saya akan ceramah panjang, kalo “sholehah” di bawa-bawa,
he.he..he..,kami memang akrab, tapi suka juga tengkar.
“Kita harus beli tas”, kata
saya
“Mana mungkin tas backpackmu
itu buat kuliah.” Seingat saya warnanya, biru tua campur keabu-abuan tapi
nyaris hitam, sudah gak jelas juga batas ketiga warnanya kalo saya gak pake
kaca mata plus saya. Tapi saya cuma membatin, khawatir dia tersinggung....
Anak ini memang suka sensitif,
saya terkadang agak hati-hati. Kalau pakai “kekerasan” malah mutung, tapi kalau
dibiarkan akan memalukan, pikir saya. Terkadang saya memaklumi, Monik sudah
tidak bersama ibunya sedari ia masih bocah kecil.
“Ada persoalan antara ayah ibu
ku, Buk” Pernah suatu kali ia bercerita, agak berlinang matanya. Ah, si gadis
tomboy bisa juga bersedih.
“Tapi itu urusan mereka nak,
kamu urus saja sekolahmu, be happy lah ...for your future, good future..” Saya
menghiburnya.
“Harus ..? Buk.. beli tas.,?
Ia membuyarkan lamunan saya.
“Iya harus", kata saya. ‘’Kamu
turutin ibu, kita harus beli tas.” Saya mengulangi.
“Mungkin bisa buat keperluan
lain, yang lebih penting..”masih membantah.
“Uang kos, atau piring,
gelas, apalah... itu buk,” dengan gaya
santainya.
“Sekarang kamu yang ikut ibu,
minggu lalu, sandal wisuda, ibu yang ikutiin kemauan kamu, sekarang kamu yang
ikut saya, gantian!” suara saya agak tegas.
“Iyaaah, Ibuk ..,” panjang
helaan nafasnya.
Saya jadi ingat minggu lalu, sandal menjadi topik yang hangat. Kami berdua ke pasar mayestik, dengan
niat mencari sandal wisudanya karena ia akan berkebaya. Sudah puter-puter 4
toko belum ada yang cocok........ ini terlalu feminim buk, hak nya tinggi, buk.
Ada pitanya buk, bertali buk..,dll alasan penolakan semua pilihan yang saya ajukan. Akhirnya saya
menyerah, terserah kamu, Mon.” Daripada ia tidak nyaman dengan pilihan saya.
Pilihannya jatuh pada sebuah
sandal hitam polos sangat simple, Alhamdulillah juga ada nomor sesuai kakinya.
“Sebenarnya…sebenarnya…” Saya
menangkap suara agak tersendat, perlahan tapi jelas.
“Saya gak pengen ganti tas,
Buk… tas saya masih bisa dipake," agak terisak ia.
‘’Lho, betul nak..tapi
tidak untuk kuliah. Mungkin kamu butuh tas yang lebih besar, untuk buku-bukumu.
Yang murah-murah koq, asal baru.. masa tas mu yang jadul itu juga yang akan
kamu bawa kuliah,’’ Otoriter saya keluar. Tapi, sungguh saya baru ‘ngeh’ kalo tas itu ada di pundak nya. Selalu setia
bertengger disitu.
“Tas ini dari ibu saya
buk.”
“Dari saya kelas 1 SD”,
katanya perlahan sambil menunjukkan kepada saya, dengan hati-hati dipindahkan
dari balik punggungnya...
Diam saya mengamati.
Mungkin obat kangennya
pada ibunya .
Saya terharu, karena tas jadul itu sudah
robek, dijahit kasar dengan benang putih,jahitan ala monik... jelas di mata
saya...
Membuat saya tercekat.
Bu Haji Menulis: Medali
Hari ini, hari wisudanya...wisuda santri. Wajahnya
sumringah melihat kami datang, tersenyum dari jauh. Dan sesekali menyeka air matanya,
pastilah air mata bahagia. Dari jauh saya mengepalkan tangan, sebagai salam
kekerabatan kami, semangat nak.
Terbayang 4 tahun silam, ia menangis, pulang sekolah duduk dengan kaki
selonjor dan punggung menyandar di dinding.
”Apa saya bisa sekolah ya bu...?” desahnya.
“Atau saya
akan seperti mama saya, mencuci. Bapak saya sudah terbaring sakit
berbulan-bulan, tak bisa bekerja..”
Saat itu, saya juga terenyuh
dengan keluhannya. Seorang gadis manis, 14 tahun, berseragam
putih biru..,biasa kami panggil Nur. Nur anak yang pintar, bersekolah di salah satu madrasah terbaik di
tempat kami. Ibunya seorang kuli mencuci yg dalam sehari berpindah dari pintu
ke pintu lain, demi menghidupi keluarganya. Di sisi lain saya optimis, dan
menghiburnya.
“Insya Allah, nak .... nanti
kita cari donatur untuk mu. Yang penting kamu berdoa dan minta kepada Allah..”
Saya menyemangati. Terpikir
oleh saya untuk menemui seseorang , teman sepengajian yang mau membiayai
sekolahnya.
Ia anak baik, dalam seminggu
Hari Senin dan Kamis, mengaji di rumah saya bersama anak-anak lainnya...dan ia
selalu dalam kondisi puasa... luar biasa, bibirnya kering dan wajahnya pucat,selalu
seperti itu tampilannya ...
Minggu depannya kejadian yg
sama terulang kembali, dengan kaki berselonjor dan punggung disandarkan,
mungkin capek pulang dari sekolah, berpanas terik.
Tapi keluhannya ... “Kan udah
mau ujian akhir bu, harus bayar spp dobel “, uang ujian nasional ini... itu..
dan sederet panjang jenis pembayarannya sampai uang perpisahan segala, menjadi
daftar penutup... tetap dengan wajah pucatnya...
Terbayang oleh saya, betapa
berat beban pikiran di gadis kecil ini, belum lagi dalam kesehariannya
menjumpai ayahnya yang terbaring lemah di rumahnya.
“Kalau pulang sekolah, kami merawat
ayah... Berdua bersama
adik saya bu.”
Suatu hari ia pernah
bercerita. “Soalnya mama belum pulang mencuci,kami memasak untuk ayah dan
membersihkan rumah...”
“Doakan ya bu, ayah saya bisa
sembuh dan bekerja lagi, agar saya bisa sekolah bu... Tak mau saya seperti mama
saya, dari saya kecil ia bekerja seperti itu.. Saya ingin membahagiakan
mereka bu...”
Begitu terus... Nur dengan
cerita sedihnya .
Tapi buat saya anak ini hebat,
prestasi di sekolahnya baik, ia mengaji, belajar, mengerjakan pekrjaan-pekerjaan
di rumahnya, ia merawat ayahnya yang
sakit. Tak mampu saya memikirkan deretan panjang pekerjaannya. Dengan
sholat yang terjaga dan puasa-puasa sunnahnya. SUBHANALLAH...
Yang mengejutkan, suatu hari
ia menyampaikan keinginannya untuk masuk pondok pesantren.
“Kamu serius nak!!” kata saya.
“Ya bu, ingin bisa Bahasa Arab,
supaya bisa jadi guru Bahasa Arab .” begitu katanya.
“Guru Bahasa Arab saya di
sekolah pinter banget bu...”
“Oh, boleh nak,” Saya kagum
akan cita-citanya.
Tapi terbayang juga
kebingungan saya untuk mencarikan pondok yang baik buatnya.
Pernah pula dengan agak
berapi-api tapi tetap dengan wajah pucatnya
“Bu, kalau di pondok,nanti aku
belajar Bahasa Arab kemudian Inggris ... bisa kuliah ke luar negri ya bu?”
“Iya nak,InsyaAllah
bisa...”jawab saya
“Apa mimpi ya bu? apa bisa
ya bu? Aku ingin punya uang yang banyak, bikin sekolah, bikin toko, punya Alfa(menyebut
sebuah nama mini market), bekerja keras bu..
“Wah hebat kamu, nak...pasti
kamu bisa semangatt!”kata saya menyemangati. Ternyata dia masih lanjut, bibirnya
kering dan pecah-pecah... mungkin dia puasa dan tidak sahur, tidak sempat minum
yang banyak. Tapi,tak mengurangi semangat nya
“Ya bu semangatt...harus
berjuang ya, bu. Supaya bisa bantuin adik-adik yang tidak sekolah, harus
sekolah, doain ya bu...”, lanjutnya. Sebelum ia meneruskan pidato heroiknya,
saya agak "cut" sedikit.
“Ayo kita mulai
pengajian ...Al-fatihah...,” kata saya,agak iba melihat raut wajah
imutnya,dengan jilbab yang tak lagi keluar warna aslinya.
Minggu-minggu berikutnya adalah
tekad saya harus mencari pondok. Pondok juga bermacam-macam kelasnya .Ternyata kalau pondok yang bagus, asri dan bersih
cukup mahal. Kalau yang biasa-biasa saja agak mengecewakan saya dengan
kebersihannya.
Saya takut tidak sesuai harapannya. Ada juga penawaran gratis tis, dengan
pengabdian.
“Anak ibu belajar sama seperti lainnya, tapi ia punya tugas-tugas
khusus di pondok, seperti membantu di
dapur, bangun tahajjud lebih awal, memasak
air untuk santri-santri sepondok, membantu kebersihan... dan...dan...”
Wah, pusing kepala saya. Anak saya ini sudah cukup berat dengan beban-beban
selama di rumahnya. Proposal itu saya tolak mentah-mentah.
“Bu,bu... Nur dipanggil ke
panggung"
Bahu saya ditepuk ibunya Nur. Ternyata wisudawan telah naik ke panggung satu per satu. Sekarang, giliran seorang gadis cantik naik ke panggung, tidak pucat...begitu anggun. Ia membungkuk takzim. Bersalaman dengan ustadzahnya. Kami berlinang air mata menyaksikannya.
Bahu saya ditepuk ibunya Nur. Ternyata wisudawan telah naik ke panggung satu per satu. Sekarang, giliran seorang gadis cantik naik ke panggung, tidak pucat...begitu anggun. Ia membungkuk takzim. Bersalaman dengan ustadzahnya. Kami berlinang air mata menyaksikannya.
Dan
sebuah medali dikalungkan, medali perjuangan...
Bu Haji Menulis: KB??
Abang Dani, seorang mentor di Rumah Tahfizh
sedang sibuk banget . Ada kegiatan Mahasiswa Akuntansi di kampusnya dan dia
ditunjuk sebagai sekertaris panitianya , dan dia dalam seminggu ini
pulangnya di atas jam 10 malem terus.
Pastilah aktivitas di Rumah Tahfizh agak
terganggu dengan “hilangnya” satu mentor , untuk menyimak hafalan anak” .
Tambah lagi kami mendapat tambahan rezeki dari Allah
SWT , seorang bocah kecil yatim ber umur 2 ½ tahun ,
bernama Gilang .
Gilang sangat dekat dengan si abang , dan
mulai dari urusan makan, BAB, cari tissue untuk pileknya sampai urusan pampers.
Seru juga urusan si adik kecil ini, dan terkadang si abang cukup kreatif, kalau
urusan mandi diserahkan pada abang junior, Aldi. Urusan makan sama Imam, abang
lain yang cukup baik hati.
Nah, urusan BAB..si adik harus pake teriak
dulu, “Baang..baang...tebokk bang!” dia belum bisa nyebut huruf c..diganti
dengan t...hahaha. Si abang akan lari-lari menghampiri, “Sebentar dek..”
Tapi suatu kali, mungkin lagi bete, adik junior
lain yang disuruh, “Urusin dong, adiknya..” Agak sengit nadanya...atau “hayyo,
hom pim pa...yang kalah harus..tebokk in” maka dengan enggan mereka hom pim
pa...
Semua berharap menang...Sementara, di toilet
adiknya teriak.. “Abang..abang...tepetan, tepetan bang...”
Pernah, suatu malam Gilang belum mau
tidur menunggu si abang pulang, repot kami dibuatnya. Akhirnya saya
berkomentar ke si abang ‘’Kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam
bang,’’ tutur saya di pagi hari ketika sedang di dapur.
Komentar saya membuat si abang berfikir keras
bagaimana supaya kegiatannya di kampus tetap bisa jalan , tetapi dia bisa
pulang tidak kemalaman , mungkin dia kasihan melihat saya kewalahan mengurus
santri kecil kami, adik Gilang. Memang suatu hari dia pulang
lebih awal dan saya ketika itu yang membuka pintunya , malah
terheran – heran... .
“Kok tumben Bang, pulangnya cepat?”
tutur saya.
“Memangnya panitia gak rapat hari ini...?’’
tanya saya
“Rapat sih, tapi bahan-bahannya sudah abang
bikin, dan bisa ditinggal..’’
“Pasti temenmu pada protes bang,..’’ mana
mungkin dengan ikhlas dan sukarela. Saya kan juga pernah ber panita ria seperti
mereka, batin saya.
“Iya Buk..hampir semua komplain. Hehehe. Pamit
salah, gak pamit lebih parah lagi pastilah.... cerewet semua buk..”
Tapi si abang sambil senyum – senyum, saya pun
menjadi penasaran..
“Abang bilang apa . . . ??? Saya
meneruskan bertanya . .
“He..hee.. Abang jelasin , mau pulang
duluan ya.. soalnya di rumah ada Gilang , anak Bu Haji yang kecil.’’
“Alasan loe ,Dan , semua bilang gitu, Buk.’’
“Dia enggak mau tidur kalau gue belum pulang
...rewel, kasian Bu Haji nya.” kata abang.
“Seriuss? Terus kata teman – teman..... anak
kecil... . .umur berapa? Kemarin2 loe gak bilang ada yang kecil, Cuma loe
bilang anak – anak yang di rumah Bu Haji ada 7 orang. . . kok sekarang
ada yang kecil ??
“Iya Gilang masih 2 tahun gitu
deh…” lanjut si Abang meneruskan cerita.
“Tapi Buk, yang mengejutkan adalah
komentar teman – teman yang lain….’Dani, emang Bu Haji itu.. enggak KB
ya ????? Anaknya banyak bangett!’”
Haha..haha… kami tertawa berdua di depan pintu.
Tuesday, April 9, 2013
Bu Haji Menulis: 23
" 23 "
Insya Allah
Usia yang semakin tenang, menuju kematangan
semakin meredam..... damai.... di alam kedewasaan
dinginnya udara Otsuka menambah kenyamanan....dalam kesejukan
menjadi hamba Allah yang semakin baik.
rintik salju.. satu-satu...menerpa diatas kerudung
semoga menandai keridhoan Nya.... Insya Allah
Teringat tentang.....Al Mu'minun, judulnya
menandai Surah ke 23..
keberuntungan untuk orang yang beriman, firmanNya
yang khusu' sholatnya....baik tutur katanya...... Insya Allah
Sudah 23 sekarang putri sakinah
Semua karena ni'mat Allah
dan ucap syukur pada Nya
sembah sujud mama tulus kepada Allah
atas titipan seorang putri sholehah... Insya Allah
dalam doa yang terus terpanjatkan
dalam ingatan yang tak putus
mengharap Hidayah Nya
untuk putri yang paling ditunjuki
jalan-jalan terbaik penuh kebaikan
dalam perjalanan waktu sekarang
dan masa depan... Insya Allah
mama
2013
Puisi untuk ulang tahun Uni Dissa yang ke 23
26 Februari 2013
Bu Haji Menulis: Doa Kami
DOA KAMI
kaki terus melangkah
kaki terus melangkah
satu..satu....tegap terarah
walau terkadang gontai
pelan, ....dan kadang melemah
tapi tetap lurus berdiri
tak hilang arah
mata dan hati tajam menghujam
memantapkan niat yang teguh
sesekali bergelombang, .....tak apa
kadang pasang, berombak tinggi
berbenturan batu karang, ...pun tak apa
peluh mengucur deras
air mata menetes berderai
kegerahan mendera diri, ...tetap tak apa
kadang bimbang, mencoba bertahan
menebas segala belukar
walau panas terik membakar
penat berkepanjangan....., juga tak apa
Karena, perjuangan belum usai
tanah gersang masih harus diolah
cangkul-cangkul terus diayun
bak para mujahid di medan perang
itulah cangkul mujahadah, nak
Bibit telah tersemai.....,
Sebentar lagi akan menuai...
Selamat berjuang anakku
doa kami tak lepas,
walau dari kejauhan ....
Puisi karya Bu Haji untuk anak-anak di Pondok Al Amin, Sumenep (Bang Hamka, dkk)
yang sedang berjuang menjelang Ujian Nasional
Maret, 2013
Maret, 2013
Friday, May 11, 2012
PAUD As Sakinah
Ada yang baru di Rumah Tahfizh As Sakinah!
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Kami Rumah
Tahfizh As Sakinah menylenggarakan PENDIDIKAN ANAK USIA DINI yang Insyaallah akan dibimbing
dengan Tenaga Pengajar yang Ahli di Bidangnya,
Dengan cara mengasyikan Anak - Anak
akan di ajarkan pelajaran - pelajaran yang dapat membekali mereka untuk lebih
siap dalam melanjutkan Pendidikan berikutnya (TK/SD).
Mulai Hari/Tanggal: Kamis, 03 Mei 2012
Bertempat di :SAUNG As
Sakinah, Jl.Oscar Rt 03/02 Bambu Apus-Pamulang
Telp :
(021) 9503 2503
Program Pendidikan
ini di laksanakan pada setiap hari KAMIS
dan SABTU pada jam 09.00
- 12.00 WIB
Alhamdulillah pada saat ini anak-anak yang telah mendaftar dan mengikuti kegiatan sebanyak 30 anak.
Mohon Do'a Restu dari semua Ikhwanul Muslimin Walmuslimat semoga ProGram baru ini berjalan dengan Istiqamah dan DiBerkahi Oleh Sang Pencipta ALLAH SWT
Mohon Do'a Restu dari semua Ikhwanul Muslimin Walmuslimat semoga ProGram baru ini berjalan dengan Istiqamah dan DiBerkahi Oleh Sang Pencipta ALLAH SWT
AMIIN YA ALLAH YA MUJIBASAILIIN
WASSALAMUALAIKUM Wr.WB
Subscribe to:
Posts (Atom)











