Thursday, April 11, 2013

Photos: As Sakinah Punya

Uni Dissa's Graduation in Sydney, Australia


Bu Haji and Uni Dissa in Japan


Shibuya

Uni Dissa and Kak Moniq in Osaka




Sebelum keberangkatan Uni Dissa :) in Saung Paud As Sakinah

Uni Dissa ft Rani & Dini

Bu Haji's Angel :D

Islamic Booklet received in Japan


Muslim Girls in Otsuka, Japan



As Sakinah Gold Moments




Bu Haji Menulis: Tasku

Suatu siang, saya agak bertengkar… dengan monik, seorang santri as sakinah. Ia telah lulus SMA, sebentar lagi akan memasuki bangku perkuliahan.

“Kita harus beli-beli, nak.” Bahasa saya awalnya begitu. “Kamu butuh baju kuliah, sepatu, jilbab, dan lain-lain, juga pikirkan alat-alat di kos an.”, kata saya meneruskan.
Ia menganguk-angguk.. “Iya buk…iya buk..” patuh. 


“Oh ya... tas juga. Mon, kita cari tas yang murah meriah.. tapi bagus, dan pantes untuk kamu pakai kuliah .”
“Hahh, tas Buk ..,?? Nggak usah, masih ada kok. Saya pakai tas yang lama ia bersikeras lagi…masih bisa dipakai.

Monik memang agak “heroik” anaknya, anak wanita 17 tahunan, tapi sukanya main bola tendang sama adiknya. Kesehariannya selalu dengan jilbab simpel, kaos dan jins dengan warna yang tak jauh beda, abu-abu, hitam, sesekali putih. 

Saya sering komentar, anak cewek harusnya suka pink, kuning, merah, atau apalah… yang penting cerah-cerah. Tapi dia cepat menjawab “terlalu genit Buk!” selalu begitu, atau sesekali memancing reaksi saya “gak sholehah, bu..”
Dan dia tahu pasti saya akan ceramah panjang, kalo “sholehah” di bawa-bawa, he.he..he..,kami memang akrab, tapi suka juga tengkar.
            
“Kita harus beli tas”, kata saya
“Mana mungkin tas backpackmu itu buat kuliah.” Seingat saya warnanya, biru tua campur keabu-abuan tapi nyaris hitam, sudah gak jelas juga batas ketiga warnanya kalo saya gak pake kaca mata plus saya. Tapi saya cuma membatin, khawatir dia tersinggung....

Anak ini memang suka sensitif, saya terkadang agak hati-hati. Kalau pakai “kekerasan” malah mutung, tapi kalau dibiarkan akan memalukan, pikir saya. Terkadang saya memaklumi, Monik sudah tidak bersama ibunya sedari ia masih bocah kecil. 
“Ada persoalan antara ayah ibu ku, Buk” Pernah suatu kali ia bercerita, agak berlinang matanya. Ah, si gadis tomboy bisa juga bersedih.
“Tapi itu urusan mereka nak, kamu urus saja sekolahmu, be happy lah ...for your future, good future..” Saya menghiburnya.

“Harus ..? Buk.. beli tas.,? Ia membuyarkan lamunan saya.
“Iya harus", kata saya. ‘’Kamu turutin ibu, kita harus beli tas.” Saya mengulangi.
“Mungkin bisa buat keperluan lain, yang lebih penting..”masih membantah.
“Uang kos, atau piring, gelas, apalah... itu buk,”  dengan gaya santainya.
“Sekarang kamu yang ikut ibu, minggu lalu, sandal wisuda, ibu yang ikutiin kemauan kamu, sekarang kamu yang ikut saya, gantian!” suara saya agak tegas.
“Iyaaah, Ibuk ..,” panjang helaan nafasnya.

Saya jadi ingat minggu lalu, sandal menjadi topik yang hangat. Kami berdua ke pasar mayestik, dengan niat mencari sandal wisudanya karena ia akan berkebaya. Sudah puter-puter 4 toko belum ada yang cocok........ ini terlalu feminim buk, hak nya tinggi, buk. Ada pitanya buk, bertali buk..,dll alasan penolakan semua  pilihan yang saya ajukan. Akhirnya saya menyerah, terserah kamu, Mon.” Daripada  ia tidak nyaman dengan pilihan saya.

Pilihannya jatuh pada sebuah sandal hitam polos sangat simple, Alhamdulillah juga ada nomor sesuai kakinya.

“Sebenarnya…sebenarnya…” Saya menangkap suara agak tersendat, perlahan tapi jelas.
“Saya gak pengen ganti tas, Buk… tas saya masih bisa dipake," agak terisak ia.
‘’Lho, betul nak..tapi tidak untuk kuliah. Mungkin kamu butuh tas yang lebih besar, untuk buku-bukumu. Yang murah-murah koq, asal baru.. masa tas mu yang jadul itu juga yang akan kamu bawa kuliah,’’ Otoriter saya keluar. Tapi, sungguh saya baru ‘ngeh’  kalo tas itu ada di pundak nya. Selalu setia bertengger disitu.

“Tas ini dari ibu saya buk.”
“Dari saya kelas 1 SD”, katanya perlahan sambil menunjukkan kepada saya, dengan hati-hati dipindahkan dari balik punggungnya... 

Diam saya mengamati.
Mungkin obat kangennya pada ibunya .
Saya terharu, karena tas jadul itu sudah robek, dijahit kasar dengan benang putih,jahitan ala monik... jelas di mata saya...
      
Membuat saya tercekat.

Bu Haji Menulis: Medali

Hari ini, hari wisudanya...wisuda santri. Wajahnya sumringah melihat kami datang, tersenyum dari jauh. Dan sesekali menyeka air matanya, pastilah air mata bahagia. Dari jauh saya mengepalkan tangan, sebagai salam kekerabatan kami, semangat nak.

Terbayang 4 tahun silam,  ia menangis, pulang sekolah duduk dengan kaki selonjor dan punggung menyandar di dinding.                 
”Apa saya bisa sekolah ya bu...?” desahnya.    
“Atau saya akan seperti mama saya, mencuci. Bapak saya sudah terbaring sakit berbulan-bulan, tak bisa bekerja..”

Saat itu, saya juga terenyuh dengan keluhannya. Seorang gadis manis, 14 tahun, berseragam putih biru..,biasa kami panggil Nur. Nur anak yang pintar,  bersekolah di salah satu madrasah terbaik di tempat kami. Ibunya seorang kuli mencuci yg dalam sehari berpindah dari pintu ke pintu lain, demi menghidupi keluarganya. Di sisi lain saya optimis, dan menghiburnya.

“Insya Allah, nak .... nanti kita cari donatur untuk mu. Yang penting kamu berdoa dan minta kepada Allah..”

Saya menyemangati. Terpikir oleh saya untuk menemui seseorang , teman sepengajian yang mau membiayai sekolahnya.

Ia anak baik, dalam seminggu Hari Senin dan Kamis, mengaji di rumah saya bersama anak-anak lainnya...dan ia selalu dalam kondisi puasa... luar biasa, bibirnya kering dan wajahnya pucat,selalu seperti itu tampilannya ...


Minggu depannya kejadian yg sama terulang kembali, dengan kaki berselonjor dan punggung disandarkan, mungkin capek pulang dari sekolah, berpanas terik.

Tapi keluhannya ... “Kan udah mau ujian akhir bu, harus bayar spp dobel “, uang ujian nasional ini... itu.. dan sederet panjang jenis pembayarannya sampai uang perpisahan segala, menjadi daftar penutup... tetap dengan wajah pucatnya...
          
Terbayang oleh saya, betapa berat beban pikiran di gadis kecil ini, belum lagi dalam kesehariannya menjumpai ayahnya yang terbaring lemah di rumahnya.
“Kalau pulang sekolah, kami merawat ayah... Berdua bersama adik saya bu.”
Suatu hari ia pernah bercerita. “Soalnya mama belum pulang mencuci,kami memasak untuk ayah dan membersihkan rumah...”

“Doakan ya bu, ayah saya bisa sembuh dan bekerja lagi, agar saya bisa sekolah bu... Tak mau saya seperti mama saya, dari saya kecil ia bekerja seperti itu.. Saya ingin membahagiakan mereka bu...”
Begitu terus... Nur dengan cerita sedihnya .


Tapi buat saya anak ini hebat, prestasi di sekolahnya baik, ia mengaji, belajar, mengerjakan pekrjaan-pekerjaan di rumahnya,  ia merawat ayahnya yang sakit. Tak mampu saya memikirkan deretan panjang pekerjaannya. Dengan sholat yang terjaga dan puasa-puasa sunnahnya. SUBHANALLAH...

Yang mengejutkan, suatu hari ia menyampaikan keinginannya untuk masuk pondok pesantren.
“Kamu serius nak!!” kata saya.
“Ya bu, ingin bisa Bahasa Arab, supaya bisa jadi guru Bahasa Arab .” begitu katanya.
“Guru Bahasa Arab saya di sekolah pinter banget bu...”
“Oh, boleh nak,” Saya kagum akan cita-citanya. 
Tapi terbayang juga kebingungan saya untuk mencarikan pondok yang baik buatnya.

Pernah pula dengan agak berapi-api tapi tetap dengan wajah pucatnya 
“Bu, kalau di pondok,nanti aku belajar Bahasa Arab kemudian Inggris ... bisa kuliah ke luar negri ya bu?”
“Iya nak,InsyaAllah bisa...”jawab saya
“Apa mimpi ya bu? apa bisa ya bu? Aku ingin punya uang yang banyak, bikin sekolah, bikin toko, punya Alfa(menyebut sebuah nama mini market), bekerja keras bu..
“Wah hebat kamu, nak...pasti kamu bisa semangatt!”kata saya menyemangati. Ternyata dia masih lanjut, bibirnya kering dan pecah-pecah... mungkin dia puasa dan tidak sahur, tidak sempat minum yang banyak. Tapi,tak mengurangi semangat nya
“Ya bu semangatt...harus berjuang ya, bu. Supaya bisa bantuin adik-adik yang tidak sekolah, harus sekolah, doain ya bu...”, lanjutnya. Sebelum ia meneruskan pidato heroiknya, saya agak "cut" sedikit.        
“Ayo kita mulai pengajian ...Al-fatihah...,” kata saya,agak iba melihat raut wajah imutnya,dengan jilbab yang tak lagi keluar warna aslinya.
           

Minggu-minggu berikutnya adalah tekad saya harus mencari pondok. Pondok juga bermacam-macam kelasnya .Ternyata  kalau pondok yang bagus, asri dan bersih cukup mahal. Kalau yang biasa-biasa saja agak mengecewakan saya dengan kebersihannya.

Saya takut tidak sesuai harapannya. Ada juga penawaran gratis tis, dengan pengabdian. 
“Anak ibu belajar sama seperti lainnya, tapi ia punya tugas-tugas khusus di pondok,  seperti membantu di dapur,  bangun tahajjud lebih awal, memasak air untuk santri-santri sepondok, membantu kebersihan... dan...dan...”  
Wah,  pusing kepala saya.  Anak saya ini sudah cukup berat dengan beban-beban  selama di rumahnya.  Proposal itu saya tolak mentah-mentah.

“Bu,bu... Nur dipanggil ke panggung"
Bahu saya ditepuk ibunya Nur. Ternyata wisudawan telah naik ke panggung satu per satu. Sekarang, giliran seorang gadis cantik naik ke panggung, tidak pucat...begitu anggun. Ia membungkuk takzim. Bersalaman dengan ustadzahnya. K
ami berlinang air mata menyaksikannya.

Dan sebuah medali dikalungkan, medali perjuangan...

                        

Bu Haji Menulis: KB??

Abang Dani, seorang mentor di Rumah Tahfizh sedang sibuk banget . Ada kegiatan Mahasiswa Akuntansi di kampusnya dan dia ditunjuk sebagai sekertaris panitianya , dan dia dalam seminggu ini  pulangnya di atas jam 10 malem terus. 

Pastilah aktivitas di Rumah Tahfizh agak terganggu dengan “hilangnya” satu mentor , untuk menyimak hafalan anak” . Tambah  lagi kami mendapat  tambahan  rezeki  dari Allah SWT , seorang  bocah kecil yatim ber umur  2  ½  tahun , bernama Gilang .

Gilang sangat dekat dengan si abang , dan mulai dari urusan makan, BAB, cari tissue untuk pileknya sampai urusan pampers. Seru juga urusan si adik kecil ini, dan terkadang si abang cukup kreatif, kalau urusan mandi diserahkan pada abang junior, Aldi. Urusan makan sama Imam, abang lain yang cukup baik hati.

Nah, urusan BAB..si adik harus pake teriak dulu, “Baang..baang...tebokk bang!” dia belum bisa nyebut huruf c..diganti dengan t...hahaha. Si abang akan lari-lari menghampiri, “Sebentar dek..”

Tapi suatu kali, mungkin lagi bete, adik junior lain yang disuruh, “Urusin dong, adiknya..” Agak sengit nadanya...atau “hayyo, hom pim pa...yang kalah harus..tebokk in” maka dengan enggan mereka hom pim pa...
Semua berharap menang...Sementara, di toilet adiknya teriak.. “Abang..abang...tepetan, tepetan bang...”

Pernah,  suatu malam Gilang belum mau tidur menunggu si abang pulang, repot kami dibuatnya.  Akhirnya saya berkomentar ke si abang  ‘’Kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam bang,’’ tutur saya di pagi hari ketika sedang di dapur.

Komentar saya membuat si abang berfikir keras bagaimana supaya kegiatannya di kampus tetap bisa  jalan , tetapi dia bisa pulang tidak kemalaman , mungkin dia kasihan melihat saya kewalahan mengurus santri kecil kami, adik Gilang.   Memang suatu hari dia pulang  lebih awal dan saya ketika  itu yang membuka pintunya , malah  terheran – heran... .

“Kok  tumben Bang,  pulangnya cepat?”  tutur saya.
“Memangnya panitia gak rapat hari ini...?’’ tanya saya     
“Rapat sih, tapi bahan-bahannya sudah abang bikin, dan bisa ditinggal..’’
“Pasti temenmu pada protes bang,..’’ mana mungkin dengan ikhlas dan sukarela. Saya kan juga pernah ber panita ria seperti mereka, batin saya.

“Iya Buk..hampir semua komplain. Hehehe. Pamit salah, gak pamit lebih parah lagi pastilah.... cerewet semua buk..”
Tapi si abang sambil senyum – senyum, saya pun menjadi penasaran..

“Abang bilang apa . . . ???  Saya meneruskan bertanya . .
“He..hee.. Abang jelasin ,  mau pulang duluan ya.. soalnya di rumah ada  Gilang , anak Bu Haji yang kecil.’’
“Alasan loe ,Dan , semua bilang gitu, Buk.’’
“Dia enggak mau tidur kalau gue belum pulang ...rewel, kasian Bu Haji nya.” kata abang.

“Seriuss? Terus kata teman – teman..... anak kecil... . .umur berapa? Kemarin2 loe gak  bilang ada yang kecil, Cuma loe bilang  anak – anak yang di rumah Bu Haji ada 7 orang. . . kok sekarang ada yang kecil ??

“Iya Gilang masih 2   tahun gitu deh…” lanjut si Abang meneruskan cerita.

“Tapi Buk,  yang mengejutkan adalah komentar  teman – teman yang lain….’Dani, emang Bu Haji itu.. enggak KB ya  ????? Anaknya  banyak bangett!’”

Haha..haha… kami tertawa berdua di depan pintu.


Tuesday, April 9, 2013

Bu Haji Menulis: 23


" 23 "
                                                     
Insya Allah
Usia yang semakin tenang, menuju kematangan
semakin meredam..... damai.... di alam kedewasaan
dinginnya udara Otsuka menambah kenyamanan....dalam kesejukan
menjadi hamba Allah yang semakin baik.
rintik salju.. satu-satu...menerpa diatas kerudung
semoga menandai keridhoan Nya.... Insya Allah

Teringat tentang.....Al Mu'minun, judulnya
menandai Surah ke 23..
keberuntungan untuk orang yang beriman, firmanNya
yang khusu' sholatnya....baik tutur katanya...... Insya Allah

                       Sudah 23 sekarang putri sakinah
                       Semua karena ni'mat Allah
                       dan ucap syukur pada Nya
                       sembah sujud mama tulus kepada Allah
                       atas titipan seorang putri sholehah... Insya Allah

dalam doa yang terus terpanjatkan

dalam ingatan yang tak putus

mengharap Hidayah Nya

untuk putri yang paling ditunjuki

jalan-jalan terbaik penuh kebaikan

dalam perjalanan waktu sekarang

dan masa depan... Insya Allah


mama
2013  


Puisi untuk ulang tahun Uni Dissa yang ke 23
26 Februari 2013

Bu Haji Menulis: Doa Kami

DOA KAMI                                                               

kaki terus melangkah

satu..satu....tegap terarah
walau terkadang gontai
pelan, ....dan kadang melemah
tapi tetap lurus berdiri
       tak hilang arah

mata dan hati tajam menghujam
memantapkan niat yang teguh
sesekali bergelombang, .....tak apa

kadang pasang, berombak tinggi
berbenturan batu karang, ...pun tak apa

peluh mengucur deras
air mata menetes berderai
kegerahan mendera diri, ...tetap tak apa

kadang bimbang, mencoba bertahan
menebas segala belukar
walau panas terik membakar
penat berkepanjangan....., juga tak apa


Karena, perjuangan belum usai
tanah gersang masih harus diolah
cangkul-cangkul terus diayun
bak para mujahid di medan perang
itulah cangkul mujahadah, nak

     Bibit telah tersemai.....,
     Sebentar lagi akan menuai...

     Selamat berjuang anakku
     doa kami tak lepas,
           walau dari kejauhan ....


Puisi karya Bu Haji untuk anak-anak di Pondok Al Amin, Sumenep (Bang Hamka, dkk)
yang sedang berjuang menjelang Ujian Nasional
Maret, 2013

Friday, May 11, 2012

PAUD As Sakinah

Ada yang baru di Rumah Tahfizh As Sakinah!

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Kami Rumah Tahfizh As Sakinah menylenggarakan PENDIDIKAN ANAK USIA DINI yang Insyaallah akan dibimbing dengan Tenaga Pengajar yang Ahli di Bidangnya, Dengan cara mengasyikan Anak - Anak akan di ajarkan pelajaran - pelajaran yang dapat membekali mereka untuk lebih siap dalam melanjutkan Pendidikan berikutnya (TK/SD).


Mulai Hari/TanggalKamis, 03 Mei 2012 
Bertempat di :SAUNG As Sakinah, Jl.Oscar Rt 03/02 Bambu Apus-Pamulang

Telp : (021) 9503 2503

Program Pendidikan ini di laksanakan pada setiap hari KAMIS dan SABTU pada jam 09.00 - 12.00 WIB

Alhamdulillah pada saat ini anak-anak yang telah mendaftar dan mengikuti kegiatan sebanyak 30 anak.

Mohon Do'a Restu dari semua Ikhwanul Muslimin Walmuslimat semoga ProGram baru ini berjalan dengan Istiqamah dan DiBerkahi Oleh Sang Pencipta ALLAH SWT
AMIIN YA ALLAH YA MUJIBASAILIIN

WASSALAMUALAIKUM Wr.WB