Monday, April 15, 2013

Holiday with Qur'an and As Sakinah




Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokaatuh..

Dalam rangka mengisi kegiatan Liburan Sekolah 2013, Rumah Tahfizh As Sakinah  akan menyelenggarakan kegiatan menghafal Al Qur’an secara intensif, yang programnya diberi nama ”HowiQu”


14 Juni – 5 Juli 2013

Syarat dan ketentuan Peserta adalah sebagai berikut:
  1. Peserta terbuka untuk siswa-siswi SD, SMP, SMA, dan umum.
  2. Pendaftaran peserta di Rumah Tahfizh As Sakinah terdekat, paling lambat tanggal 10 Mei 2013. Atau menghubungi :
    • Ibu Khodijah  (0877 7421 8056)
    • Kak Nurjannah (0819 0642 7142) 
    • Dengan mengisi formulir yang disediakan panitia dan membawa surat persetujuan dari orangtua.
  3. Panitia akan mengadakan seleksi penempatan kelas pada tanggal 6 – 9 Juni 2013.
  4. Peserta yang memenuhi syarat akan bermukim di Pondok Tahfizh As Sakinah selama masa kegiatan berlangsung.
  5. Peserta diminta untuk membawa perlengkapan sholat dan kebutuhan pribadi masing-masing (termasuk  obat-obatan yang diperlukan).
  6. Kegiatan ini tidak memungut biaya dari peserta.
  7. Panitia akan menyediakan konsumsi bekerjasama sama dengan para orang tua santri, peserta, dan keluarga besar Rumah Tahfizh As Sakinah selama kegiatan berlangsung.
  8. Peserta tidak diperkenankan membawa barang-barang berharga.
  9. Handphone dan sejenisnya akan dibatasi penggunaannya oleh Panitia.







“ Dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran,
 maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS 54 : 17)

Rumah Tahfizh As Sakinah
T h e   H o u s e   o   P r o u   H a f e e z h   a n   H a f e e z h a h

Friday, April 12, 2013

Tausiah Pengajian: Istiqamah


ISTIQOMAH

Catatan Pengajian Ahad Pagi, 14 Oktober 2012
Oleh : Ustadz Arrozy Hasyim

Pengajian hari ini merupakan pengajian tematik membahas tentang Istiqomah.
Berdasarkan Q.S. Fussilat 30.
Bismillahirrohmaanirrohiim
Innallazina qooluu Robbunallaahu tsummas taqoomu tatanazzalu ‘alaihimul Malaaikatu Alla takhofuu walaa tahzanuu wa absyiruu bil Jannatillatii kuntum tuu ‘aduun
(Q.S. 41/30)

Penjelasan:

Robbunallaahu terjemahannya adalah Tuhan kami adalah Allah.

Menerima Allah sebagai Rabb berarti meyakini sepenuh hati bahwa Dia adalah Sang Pengatur, Sang Penentu atau Sang Penggerak. Sedangkan  Allah sebagai Ilah artinya Allah sebagai Tuhan yang Wajib Disembah, Dicintai dan Wajib Diingat.

Dalam mengatur dan menggerakkan alam semesta (termasuk manusia), maka Perintah dari Allah ada yang sifatnya Alami (Amrun Kauni), seperti secara fisik   air yang bersifat membasahi, api yang bersifat membakar, air menyuburkan tumbuhan, dan lainnya. Begitu juga secara non fisik adanya kesusahan membuat kita bersedih, sebaliknya dengan kegembiraan kita merasa senang. Inilah yang terkandung dalam kalimat “kun fa-yakun”. Adapula perintah yang sifatnya Syar’i (Amrun Syar‘i) seperti perintah Salat, berpuasa, berzakat dan berhaji bagi yang mampu.

Pemahaman terhadap Perintah-perintah Allah yang bersifat alami itu membuahkan keyakinan bahwa semuanya hanya terjadi dengan izin Allah. Adapun  yang bersifat Amrun Syar’i maka itulah yang harus kita kerjakan manakala kita menyatakan bahwa Tuhan kami adalah Allah, sebagai konsekuensi kita bertuhan. Kita berharap apa yang kita kerjakan sesuai dengan tuntunanNya, kehendakNya, dan kita berharap semoga Allah Ridho dengan apa yang kita kerjakan.

Kita pun ridho Allah sebagai Robb, yaitu menerima Allah sebagai Tuhan Sang Penentu semua peristiwa. Terkadang kita merasa sakit, senang, baik, buruk dsb. Sebenarnya, Allah tidak pernah melakukan sesuatu yang ‘Buruk’ untuk hambaNya, meskipun secara zahir terlihat buruk. Sebagai contoh, ada seseorang yang menjadi lebih baik lagi setelah ia mendapat penyakit atau musibah. Begitu juga banyak orang yang menjadi lebih sukses karena kegagalan. Ternyata penyakit dan kegagalan mengajarkan dirinya agar lebih cermat dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, Nabi  Saw bersabda:

كُلُّ أَمْرُ اْلُمؤْمِنِ خَيْرٌ إِذَا َأصَابَهُ خَيْرُ شَكَرَ وَإِذَا َأَصَابَهُ شرٌّ صَبَرَ

Semua urusan orang beriman itu baik.  Apabila mendapatkan yang baik, maka ia mensyukurinya. Apabila mendapatkan yang buruk, maka ia bersabar. (HR. Muslim)
Hadis ini merupakan dalil bahwa jangankan di sisi Allah, bahkan pada diri orang yang beriman pun segala urusan dianggap baik, apalagi  di sisi Allah.

Untuk itu dianjurkan untuk membaca doa pagi dan petang sbb. :
Rodhituu billahi robba wabil islami diina wabi muhammadin nabiyyau warosuula.

Istiqamah

Setelah mengikrarkan bahwa Tuhan kami adalah Allah, dilanjutkan dengan Tsummas taqoomu yang artinya kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.

Itulah yang dimaksud dengan Istiqomah, yaitu perjuangan untuk tetap bertahan supaya tidak salah memikirkan Tuhan, dan mempertahankan rasa bertuhan bahwa Allahlah penggerak dan pengatur segala sesuatu.

Istiqomah itu ada 2, yaitu :
  • Istiqomah Qolbii, secara hati
    • Istiqamah qalbi berarti terus menerus menjaga perasaan agar berbaik sangka kepada Allah dan melakukan Zikrullah, yaitu mengingat Allah dengan hati dan lisan.
    • Zikir merupakan penetral paling hebat, jika kita sedang merasa tidak stabil dalam ibadah, perasaan tidak tenang atau perasaan sedih yang berlebihan karena suatu masalah duniawi, maka janganlah kita mempertanyakan kenapa Allah menjadikan ini untuk kita, tetapi segeralah berzikir sesegera dan sebanyak mungkin, Insya Allah semua akan ternetralisasi.
  • Istiqomah ‘Amalii, secara perbuatan
    • Kita melakukan amalan yang terus menerus, dan tetap bertahan untuk stabil, walaupun amalan tersebut sedikit.
    • Tetapi dengan berjalannya waktu kita berharap amalan yang kita lakukan semakin bertambah, dari segi kuantitas maupun kualitas.
Buah Istiqamah

Lanjutan ayatnya adalah tatanazzalu ‘alaihim malaaikatu, yang artinya akan turun kepada mereka (yang Istiqomah) malaikat-malaikat. Merupakan malaikat pengiring seseorang yang Istiqomah, sebagai buah atau ganjaran bagi orang-orang yang berusaha teguh menjaga perasaan kepada Allah. Secara lahiriah akan terlihat orang tersebut lebih tenang, karena merasa dekat dengan Allah dan Insya Allah doanya diijabah Allah swt. Selanjutnya para malaikat akan membisikkan kepada mereka allaa takhoofuu wa laa tahzanuu, janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih. Malaikat akan membisikkannya untuk orang-orang yang Istiqomah. Subhanallah..

Di akhir ayat ditutup dengan hadiah yang menggembirakan wa absyiruu bil jannatillatii “kuntum tuu’aduun”, dan gembirakanlah mereka dengan (memperoleh) syurga “yang dijanjikan Allah kepadamu”. Ternyata Allah menjanjikan Syurga bagi orang-orang yang Istiqomah... Amin.

Kesimpulan

  1. 1)   Allah memuliakan orang-orang yang istiqamah dengan mengutus para malaikat “pelindung dan penghibur” kepada mereka.
  2. 2)   Malaikat-malaikat tersebut akan menghibur dan menguatkan hati orang yang istiqamah ketika menghadapi persoalan duniawi
  3. 3)   Malaikat-malaikat tersebut juga mengabarkan berita gembira untuk orang yang istiqamah, bahwa Allah menjanjikan surga untuk mereka.
  4. 4)   Ada dua istiqamah, yaitu qalbi dan amali.


Thursday, April 11, 2013

Photos: As Sakinah Punya

Uni Dissa's Graduation in Sydney, Australia


Bu Haji and Uni Dissa in Japan


Shibuya

Uni Dissa and Kak Moniq in Osaka




Sebelum keberangkatan Uni Dissa :) in Saung Paud As Sakinah

Uni Dissa ft Rani & Dini

Bu Haji's Angel :D

Islamic Booklet received in Japan


Muslim Girls in Otsuka, Japan



As Sakinah Gold Moments




Bu Haji Menulis: Tasku

Suatu siang, saya agak bertengkar… dengan monik, seorang santri as sakinah. Ia telah lulus SMA, sebentar lagi akan memasuki bangku perkuliahan.

“Kita harus beli-beli, nak.” Bahasa saya awalnya begitu. “Kamu butuh baju kuliah, sepatu, jilbab, dan lain-lain, juga pikirkan alat-alat di kos an.”, kata saya meneruskan.
Ia menganguk-angguk.. “Iya buk…iya buk..” patuh. 


“Oh ya... tas juga. Mon, kita cari tas yang murah meriah.. tapi bagus, dan pantes untuk kamu pakai kuliah .”
“Hahh, tas Buk ..,?? Nggak usah, masih ada kok. Saya pakai tas yang lama ia bersikeras lagi…masih bisa dipakai.

Monik memang agak “heroik” anaknya, anak wanita 17 tahunan, tapi sukanya main bola tendang sama adiknya. Kesehariannya selalu dengan jilbab simpel, kaos dan jins dengan warna yang tak jauh beda, abu-abu, hitam, sesekali putih. 

Saya sering komentar, anak cewek harusnya suka pink, kuning, merah, atau apalah… yang penting cerah-cerah. Tapi dia cepat menjawab “terlalu genit Buk!” selalu begitu, atau sesekali memancing reaksi saya “gak sholehah, bu..”
Dan dia tahu pasti saya akan ceramah panjang, kalo “sholehah” di bawa-bawa, he.he..he..,kami memang akrab, tapi suka juga tengkar.
            
“Kita harus beli tas”, kata saya
“Mana mungkin tas backpackmu itu buat kuliah.” Seingat saya warnanya, biru tua campur keabu-abuan tapi nyaris hitam, sudah gak jelas juga batas ketiga warnanya kalo saya gak pake kaca mata plus saya. Tapi saya cuma membatin, khawatir dia tersinggung....

Anak ini memang suka sensitif, saya terkadang agak hati-hati. Kalau pakai “kekerasan” malah mutung, tapi kalau dibiarkan akan memalukan, pikir saya. Terkadang saya memaklumi, Monik sudah tidak bersama ibunya sedari ia masih bocah kecil. 
“Ada persoalan antara ayah ibu ku, Buk” Pernah suatu kali ia bercerita, agak berlinang matanya. Ah, si gadis tomboy bisa juga bersedih.
“Tapi itu urusan mereka nak, kamu urus saja sekolahmu, be happy lah ...for your future, good future..” Saya menghiburnya.

“Harus ..? Buk.. beli tas.,? Ia membuyarkan lamunan saya.
“Iya harus", kata saya. ‘’Kamu turutin ibu, kita harus beli tas.” Saya mengulangi.
“Mungkin bisa buat keperluan lain, yang lebih penting..”masih membantah.
“Uang kos, atau piring, gelas, apalah... itu buk,”  dengan gaya santainya.
“Sekarang kamu yang ikut ibu, minggu lalu, sandal wisuda, ibu yang ikutiin kemauan kamu, sekarang kamu yang ikut saya, gantian!” suara saya agak tegas.
“Iyaaah, Ibuk ..,” panjang helaan nafasnya.

Saya jadi ingat minggu lalu, sandal menjadi topik yang hangat. Kami berdua ke pasar mayestik, dengan niat mencari sandal wisudanya karena ia akan berkebaya. Sudah puter-puter 4 toko belum ada yang cocok........ ini terlalu feminim buk, hak nya tinggi, buk. Ada pitanya buk, bertali buk..,dll alasan penolakan semua  pilihan yang saya ajukan. Akhirnya saya menyerah, terserah kamu, Mon.” Daripada  ia tidak nyaman dengan pilihan saya.

Pilihannya jatuh pada sebuah sandal hitam polos sangat simple, Alhamdulillah juga ada nomor sesuai kakinya.

“Sebenarnya…sebenarnya…” Saya menangkap suara agak tersendat, perlahan tapi jelas.
“Saya gak pengen ganti tas, Buk… tas saya masih bisa dipake," agak terisak ia.
‘’Lho, betul nak..tapi tidak untuk kuliah. Mungkin kamu butuh tas yang lebih besar, untuk buku-bukumu. Yang murah-murah koq, asal baru.. masa tas mu yang jadul itu juga yang akan kamu bawa kuliah,’’ Otoriter saya keluar. Tapi, sungguh saya baru ‘ngeh’  kalo tas itu ada di pundak nya. Selalu setia bertengger disitu.

“Tas ini dari ibu saya buk.”
“Dari saya kelas 1 SD”, katanya perlahan sambil menunjukkan kepada saya, dengan hati-hati dipindahkan dari balik punggungnya... 

Diam saya mengamati.
Mungkin obat kangennya pada ibunya .
Saya terharu, karena tas jadul itu sudah robek, dijahit kasar dengan benang putih,jahitan ala monik... jelas di mata saya...
      
Membuat saya tercekat.

Bu Haji Menulis: Medali

Hari ini, hari wisudanya...wisuda santri. Wajahnya sumringah melihat kami datang, tersenyum dari jauh. Dan sesekali menyeka air matanya, pastilah air mata bahagia. Dari jauh saya mengepalkan tangan, sebagai salam kekerabatan kami, semangat nak.

Terbayang 4 tahun silam,  ia menangis, pulang sekolah duduk dengan kaki selonjor dan punggung menyandar di dinding.                 
”Apa saya bisa sekolah ya bu...?” desahnya.    
“Atau saya akan seperti mama saya, mencuci. Bapak saya sudah terbaring sakit berbulan-bulan, tak bisa bekerja..”

Saat itu, saya juga terenyuh dengan keluhannya. Seorang gadis manis, 14 tahun, berseragam putih biru..,biasa kami panggil Nur. Nur anak yang pintar,  bersekolah di salah satu madrasah terbaik di tempat kami. Ibunya seorang kuli mencuci yg dalam sehari berpindah dari pintu ke pintu lain, demi menghidupi keluarganya. Di sisi lain saya optimis, dan menghiburnya.

“Insya Allah, nak .... nanti kita cari donatur untuk mu. Yang penting kamu berdoa dan minta kepada Allah..”

Saya menyemangati. Terpikir oleh saya untuk menemui seseorang , teman sepengajian yang mau membiayai sekolahnya.

Ia anak baik, dalam seminggu Hari Senin dan Kamis, mengaji di rumah saya bersama anak-anak lainnya...dan ia selalu dalam kondisi puasa... luar biasa, bibirnya kering dan wajahnya pucat,selalu seperti itu tampilannya ...


Minggu depannya kejadian yg sama terulang kembali, dengan kaki berselonjor dan punggung disandarkan, mungkin capek pulang dari sekolah, berpanas terik.

Tapi keluhannya ... “Kan udah mau ujian akhir bu, harus bayar spp dobel “, uang ujian nasional ini... itu.. dan sederet panjang jenis pembayarannya sampai uang perpisahan segala, menjadi daftar penutup... tetap dengan wajah pucatnya...
          
Terbayang oleh saya, betapa berat beban pikiran di gadis kecil ini, belum lagi dalam kesehariannya menjumpai ayahnya yang terbaring lemah di rumahnya.
“Kalau pulang sekolah, kami merawat ayah... Berdua bersama adik saya bu.”
Suatu hari ia pernah bercerita. “Soalnya mama belum pulang mencuci,kami memasak untuk ayah dan membersihkan rumah...”

“Doakan ya bu, ayah saya bisa sembuh dan bekerja lagi, agar saya bisa sekolah bu... Tak mau saya seperti mama saya, dari saya kecil ia bekerja seperti itu.. Saya ingin membahagiakan mereka bu...”
Begitu terus... Nur dengan cerita sedihnya .


Tapi buat saya anak ini hebat, prestasi di sekolahnya baik, ia mengaji, belajar, mengerjakan pekrjaan-pekerjaan di rumahnya,  ia merawat ayahnya yang sakit. Tak mampu saya memikirkan deretan panjang pekerjaannya. Dengan sholat yang terjaga dan puasa-puasa sunnahnya. SUBHANALLAH...

Yang mengejutkan, suatu hari ia menyampaikan keinginannya untuk masuk pondok pesantren.
“Kamu serius nak!!” kata saya.
“Ya bu, ingin bisa Bahasa Arab, supaya bisa jadi guru Bahasa Arab .” begitu katanya.
“Guru Bahasa Arab saya di sekolah pinter banget bu...”
“Oh, boleh nak,” Saya kagum akan cita-citanya. 
Tapi terbayang juga kebingungan saya untuk mencarikan pondok yang baik buatnya.

Pernah pula dengan agak berapi-api tapi tetap dengan wajah pucatnya 
“Bu, kalau di pondok,nanti aku belajar Bahasa Arab kemudian Inggris ... bisa kuliah ke luar negri ya bu?”
“Iya nak,InsyaAllah bisa...”jawab saya
“Apa mimpi ya bu? apa bisa ya bu? Aku ingin punya uang yang banyak, bikin sekolah, bikin toko, punya Alfa(menyebut sebuah nama mini market), bekerja keras bu..
“Wah hebat kamu, nak...pasti kamu bisa semangatt!”kata saya menyemangati. Ternyata dia masih lanjut, bibirnya kering dan pecah-pecah... mungkin dia puasa dan tidak sahur, tidak sempat minum yang banyak. Tapi,tak mengurangi semangat nya
“Ya bu semangatt...harus berjuang ya, bu. Supaya bisa bantuin adik-adik yang tidak sekolah, harus sekolah, doain ya bu...”, lanjutnya. Sebelum ia meneruskan pidato heroiknya, saya agak "cut" sedikit.        
“Ayo kita mulai pengajian ...Al-fatihah...,” kata saya,agak iba melihat raut wajah imutnya,dengan jilbab yang tak lagi keluar warna aslinya.
           

Minggu-minggu berikutnya adalah tekad saya harus mencari pondok. Pondok juga bermacam-macam kelasnya .Ternyata  kalau pondok yang bagus, asri dan bersih cukup mahal. Kalau yang biasa-biasa saja agak mengecewakan saya dengan kebersihannya.

Saya takut tidak sesuai harapannya. Ada juga penawaran gratis tis, dengan pengabdian. 
“Anak ibu belajar sama seperti lainnya, tapi ia punya tugas-tugas khusus di pondok,  seperti membantu di dapur,  bangun tahajjud lebih awal, memasak air untuk santri-santri sepondok, membantu kebersihan... dan...dan...”  
Wah,  pusing kepala saya.  Anak saya ini sudah cukup berat dengan beban-beban  selama di rumahnya.  Proposal itu saya tolak mentah-mentah.

“Bu,bu... Nur dipanggil ke panggung"
Bahu saya ditepuk ibunya Nur. Ternyata wisudawan telah naik ke panggung satu per satu. Sekarang, giliran seorang gadis cantik naik ke panggung, tidak pucat...begitu anggun. Ia membungkuk takzim. Bersalaman dengan ustadzahnya. K
ami berlinang air mata menyaksikannya.

Dan sebuah medali dikalungkan, medali perjuangan...

                        

Bu Haji Menulis: KB??

Abang Dani, seorang mentor di Rumah Tahfizh sedang sibuk banget . Ada kegiatan Mahasiswa Akuntansi di kampusnya dan dia ditunjuk sebagai sekertaris panitianya , dan dia dalam seminggu ini  pulangnya di atas jam 10 malem terus. 

Pastilah aktivitas di Rumah Tahfizh agak terganggu dengan “hilangnya” satu mentor , untuk menyimak hafalan anak” . Tambah  lagi kami mendapat  tambahan  rezeki  dari Allah SWT , seorang  bocah kecil yatim ber umur  2  ½  tahun , bernama Gilang .

Gilang sangat dekat dengan si abang , dan mulai dari urusan makan, BAB, cari tissue untuk pileknya sampai urusan pampers. Seru juga urusan si adik kecil ini, dan terkadang si abang cukup kreatif, kalau urusan mandi diserahkan pada abang junior, Aldi. Urusan makan sama Imam, abang lain yang cukup baik hati.

Nah, urusan BAB..si adik harus pake teriak dulu, “Baang..baang...tebokk bang!” dia belum bisa nyebut huruf c..diganti dengan t...hahaha. Si abang akan lari-lari menghampiri, “Sebentar dek..”

Tapi suatu kali, mungkin lagi bete, adik junior lain yang disuruh, “Urusin dong, adiknya..” Agak sengit nadanya...atau “hayyo, hom pim pa...yang kalah harus..tebokk in” maka dengan enggan mereka hom pim pa...
Semua berharap menang...Sementara, di toilet adiknya teriak.. “Abang..abang...tepetan, tepetan bang...”

Pernah,  suatu malam Gilang belum mau tidur menunggu si abang pulang, repot kami dibuatnya.  Akhirnya saya berkomentar ke si abang  ‘’Kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam bang,’’ tutur saya di pagi hari ketika sedang di dapur.

Komentar saya membuat si abang berfikir keras bagaimana supaya kegiatannya di kampus tetap bisa  jalan , tetapi dia bisa pulang tidak kemalaman , mungkin dia kasihan melihat saya kewalahan mengurus santri kecil kami, adik Gilang.   Memang suatu hari dia pulang  lebih awal dan saya ketika  itu yang membuka pintunya , malah  terheran – heran... .

“Kok  tumben Bang,  pulangnya cepat?”  tutur saya.
“Memangnya panitia gak rapat hari ini...?’’ tanya saya     
“Rapat sih, tapi bahan-bahannya sudah abang bikin, dan bisa ditinggal..’’
“Pasti temenmu pada protes bang,..’’ mana mungkin dengan ikhlas dan sukarela. Saya kan juga pernah ber panita ria seperti mereka, batin saya.

“Iya Buk..hampir semua komplain. Hehehe. Pamit salah, gak pamit lebih parah lagi pastilah.... cerewet semua buk..”
Tapi si abang sambil senyum – senyum, saya pun menjadi penasaran..

“Abang bilang apa . . . ???  Saya meneruskan bertanya . .
“He..hee.. Abang jelasin ,  mau pulang duluan ya.. soalnya di rumah ada  Gilang , anak Bu Haji yang kecil.’’
“Alasan loe ,Dan , semua bilang gitu, Buk.’’
“Dia enggak mau tidur kalau gue belum pulang ...rewel, kasian Bu Haji nya.” kata abang.

“Seriuss? Terus kata teman – teman..... anak kecil... . .umur berapa? Kemarin2 loe gak  bilang ada yang kecil, Cuma loe bilang  anak – anak yang di rumah Bu Haji ada 7 orang. . . kok sekarang ada yang kecil ??

“Iya Gilang masih 2   tahun gitu deh…” lanjut si Abang meneruskan cerita.

“Tapi Buk,  yang mengejutkan adalah komentar  teman – teman yang lain….’Dani, emang Bu Haji itu.. enggak KB ya  ????? Anaknya  banyak bangett!’”

Haha..haha… kami tertawa berdua di depan pintu.